Rabu, 04 April 2012

KEPRIHATINAN DAKWAH ISLAM


Alhamduillah, kita telah dilahirkan sebagai seorang musim  yang turut merasakan tanggung jawab untuk melanjutkan estafet perjuangan da’wah islam yang telah dimulai oleh pendahulu-pendahulu kita yang dimuliakan-Nya. Mereka telah berbuat sedemikian rupa demi tegaknya kalimat-Nya, insya’ Allah. Semoga Allah swt. Mencurahkan karunia-Nya kepeda mereka semua. 

Dan kini giliran kita semua yang bekerja melanjutkan pekerjaan mereka yang belum tuntas; yang sesungguhnya pekerjaan besar ini tak akan pernah mengenal “tuntas” hingga hari kiamat nanti. Apa yang kita kerjakan sekarang ini insya’ Allah akan meninggalkan bekas untuk generasi sesudah kita nanti, dan mereka pun akan merasakan hasil pekerjaan kita. Baik atau buruk, kurang atau lebih, itu sudah menjadi hiasan pekerjaan manusia, karena kita bukanlah seorang Nabi. Jadi, sebenarnya kita tidak perlu mencemoh atau menyepelekan apa yang kita rasakan dari pekerjaan generasi lalu. Namun kita perlu mengoreksi gerak langkah mereka, supaya jika kita temukan ada kekeliruan, jangan sampai teruang lagi, tapi jika kita temukan kebaikanya, harus kita tingkangkan.
         Berda’wah tidak bisa asal-asalan. Salah satu perkara yang penting adalah kesanggupan menilai situasi untuk menerima da’wah kita itu. apakah materi dakwah yang akan kita samapaikan ini telah sesuiai dengan daya tangkap mereka, atau sesuai dengan situasi dimana mereka berada. Darinya akan menimbulkan masalah:  mulai dari mana dulu kita menda’wakan islam ini. apakah dari sholat dulu, apakah dari mesjid dulu, apakah dari imfaq dulu, apakah yang penting bisa merekrut pengikut sebanyak-banyaknya dulu, atau yang penting  bai’at (janji setia) kepada imam (pemimpin) dulu, atau dimana dulu yang penting? Satu-satunya manusia yang paling tepat mengantisipasi  masalah dakwah adalah Nabi Muhammad saw. sendiri, karena dia selalu dibimbing oleh wahyu, sehingga jika penilaian beliau terhadap suatu gejala sosial keliru atau tepat, maka segera Allah swt menegurnya. Sedangkan, kalau kita keliru, siapa yang menegur? Hampir semua orang merasa “sungkang” kalau harus menasehati atau menegur gurunya atau ustadznya, karena merasa dirinya mendapat servis dari mereka, sehingga khawatir, jika ia berani “bicara” bisa-bisa servisnya distop. Akhirnya kesalahan dan kekeliruan sikap para pemimpin itu terus berlalu. Cepat atau lambat ia mengangkat dirinya sebagai tuhan kecil, seraya berkata ”mengabdilah kalian kepadaku dan jangan ikuti selain aku....”.

Memang suasana yang kita alami sekarang ini sungguh memprihatinkan. Banyak para uama atau pemimpin yang karena merasa “besar” tidak mau menerima nasehat dari murid-muridnya yang dianggap masih “cabe rawit”. Dan sebaliknya, jarang sekali murid-murid mengingatkan gurunya, karena masih merasa bodoh atau belum bisa membaca kitab kuning. Akibatnya ustadz itu menganggap, bahwa dirinyalah orang yang paling berhak menafsirkan ayat atau hadits atau menjelaskan urusan-urusan agama, sehingga melarang murid-murinya mengaji di kelompok lain. Demikian pula murid-murid yang kurang pandai, menganggap bahwa ustadznya saja yang paling pintar, paling shahih, paling berhak menerankan soal-soal agama, maka murid-muridnya hanya mengikuti (taqid) saja, daya kritisnya lumpuh, sehingga merasa, hanya kelompoknya sajalah yang benar, yang akan masuk surga, yang lain neraka saja, mereka tidak mau lagi mengaji di tempat lain, walaupun mereka tetap kuliah, sebab kuliah itu urusan dunia, sedangkan untuk urusan agama, ustadz dan kelompaknyalah yang berhak atasnya. Jadi, kalau “ndobel” kuliah itu boleh, tapi kalau merangkap guru dan ustadz itu haram. Alasanya kalau ngaji kemudian gurunya banyak akan membingungkan, nah supaya tidak membingungkan dan menjaga afektifitasnya harus satu guru saja, yaitu saya. Meskipun kata “saya” itu tidak diucapkan secara terus teran, tapi jelas maksudnya kesana juga.

         Hal itu ada beberapa sebabnya. Diantaranya adalah soal metode pengajaran. Misalnya, satu kelompok ingin merekrut anggota, maka kelompok itu membuat metode tertentu dan mengklaim: kamilah kelompok yang paling “nyunnah”.... lihatlah! Adakah kelompok lain yang berbuat sesunnah kelompok lain? Kami hanya menyampaikan ayat-ayat Allah, kembali ke Qur’an dengan murni dan konsekuen. Perkara yang semisal itu hampir ada di setiap kelompok. Masing-masing membuat metode, lalu menglaimnya sebagai metode paling baik, dan dibela secara fanatik.

Ada juga cara lain yang hampir sama tujuannya, yaitu membuat anggota agar mencintai kelompoknya dan mau mempertahankan eksistensinya. Biasa dengan memberikan materi “istemewaan kelompoknya dan menjatuhkan kelompok lain” Tujuanya adalah supaya anggota baru itu mengenal sejarah kelompok itu, kemudian memujinya, akhirnya membelanya. Di sinilah kunci ashahiyah terselubung yang banyak dipraktekkan oleh kelompok-kelompok islam dalam usaha menyebarkan pahamnya. Ini dalah usaha jahiiyah yang masih banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok yang membawa misi da’wah islamiyah. Hemat saya, ini sangat membahayakan, sebab tujuanya bukan membawa anggota untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya secara murni, tetapi justru dibawah pada ashobiyah golongan, baru seteah itu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Itu kalau berhasil. Kebanyakan justru sebaliknya. Mereka hidup di golongan itu untuk mencari harta, tahta dan wanita. Nampaknya kenyataan ini tidak hanya terdapat pada kelompok-kelompok kecil saja, bahakan organisasi-organisasi besara pun mengalami keprihatinan atas pola-tingkah anggotanya yang “over” keduniannya. Kita bisa meriset kalau diizinkan. Benarkah keterlibatan mereka berada di wadah kita, benar-benar memperjuangkan da’wah atau popularitasnya, atau bahkan mendirikan dinasti untuk “orang-orangnya”. Akibat yang sering kita rasakan seperti yang sering kita dengar istilah “minna” dan “minhum” atau biasa dikalangan anak muda itu istlah “ikhwan kita” atau “bukan ikhwan kita”. Hati kita pun merasa sedih jika kelompok lain pengikutnya banyak, atau ada anggota kita yng mengikuti kajian kelompok lain, langsung kita “labrak”. Perumpamaanya seperti kalau kita mau mebangun rumah, sebelumya barang-barang material itu kita tempatkan di suatu tempat tertentu tampa mencampur adukkan. Kalau ada yang tercampur segera kita pisahkan, misalnya pasir dengan kapur (gamping). Pendek kata masing-masing material itu tidak mau bercampur dulu, inginnya memisah saja. Jadi, meskipun jumlah pasir atau gamping semakin banyak, tetap tak akan terbentuk bangunan apapun, lalu kalau begitu apa artinya material itu? itulah gambaran da’wah yang terjadi masa sekarang ini, banyaknya perpecahan yang terjadi dikalangan umat islam itu sendiri. maka benarlah perkataan “engkau lihat mereka itu bersatu, padahal hati, mereka bercerai berai”. Dalam kitab tazkiyatu nufus, ada sebuah haidts dari Abi Sa’id al-Khudriy dari Rasulullah saw. mengatakan, “....... tiga perkara akan menghilangkan masygulnya (kecurigaan) hati seorang mukmin, yaitu: ikhlas beramal untuk Allah, berani menasehati para pemuka islam, dan menzalimi jama’ah umat islam”. (Hr. Bazari dengan isnad hasan dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).  

         Syarat pertama: ikhlas beremal untuk Allah, mungkin saja masih ada orangnya, kedua: menasihati para ulama,  mungkin masih ada juga orangnya. Tetapi syarat ketiga ini mungkin blum ada samaskali. Jadi, keadaan kita skarang ini blum bisa dikatakan “ahlu sunnah wal jamaah” tetapi cukup “ahlussunnah” saja, sebab jama’ah dalam arti sesungguhnya belum terbentuk, karena syarat-syarat jamaah yang ada sekarang ini belum terpenuhi; seperti adanya imam, makmun, bai’atul imam (janji setia kepada imam yang dipilih oleh ahlul halli wal’aqdi), dan teritorial.

          Di dalam kitab al-Firqatun-Najiyah diterangkan, bahwa yang disebut jama’ah adalah orang menetapi apa yang ditetapi Nabi Muhammad dan para sahabatnya (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh al Bani di dalam shahih al-Jami’ 5219). Sekarang mana ada kelompok yang secara murni menetapi apa yang ditetapi Nabi dan para sahabatnya? Kalau ada alhamdulillah, bagaimana kalau tidak ada? Jika menetapi apa yang ditetapi oleh Nabi dan sahabatanya, itulah jama’ah. Memang, baiknya semua orang atau kelompok islam atau halaqah atau harakah atau usrah atau apa saja istilah yang dipakai, semuanya iltizam (komitmen) semurni-murninya kepada syarat jama’ah tersebut, tapi nyatanya sulit sekali.

        Jadi sebutan “jama’ah” itu tidaklah ringan. Asal banyak pengikutnya disebut jamaah? Atau ada ketua umunya disebut jama’ah? Ya, boleh saja, tapi itu namaya memperkosa istilah jamaah. Kalau jama’ah ditentukan oleh banyak pengikutnya, wah repot! Ahmadiyah pun banyak pengikutnya. Kalau ditentukan oleh adanya ketua umum, juga sama repotnya, karena satu desa bisa berpuluh ketua umum, entah itu organisasi petani, pemuda, pemudi, atau penganggur. Mungkinkah satu desa imamnya lusinan? Ya, mungkin saja.

      Tujuan akhir dari proses da’wah sebenarnya adalah Dinul Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dari segi arahnya dapat dirinci menjadi tujuan vertical dan dan tujuan horizontal.  Tujuan vertikal, yaitu suatu kehidupan yang diridhai Allah (Q.S. 2:207, 6:162-168, 19:6). Tujuan horisontal, yaitu a) kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Q.S. 28:77, 7:156) dan b)  rahmat bagi semua manusia dan alam semesta (Q.S 21: 207). Dari segi lingkungannya, maka satuan da’wah ingin membentuk:
  1. Terwujudnya pribadi yang diridhai Allah, yaitu pribadi Muslim yang paripurna, yang takwa kepada Allah swt. (Q.S. 2:22-28).
  2. Terwujudnya rumah tangga yang diridhai Allah, yaitu yaitu rumah tangga yang sakinah penuh mawaddah dan rahmah anugrah ilahi (Q.S. 20:21).
  3. Terwujudnya qaryah (lingkungan kampong, kampus, kantor dsb) yang diridhai Allah swt, yaitu qaryah yang kondusif dan laayak menerima berkah dari Allah dari pebagai arah, disebbabkan warganya beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. (Q.S. 7:96)
  4. Terwujudnya negri/negara yang diridhai Allah, yaitu baldah thayyibah yang diliputi magfirah Allah swt. ( Q.S. 34:15)
  5. Terwujudnya dunia yang diridhai Allah, yaitu yang hasanah dan bekesinambugan dengan akhirat yang hasanah pula (Q.S. 88:77, 7:156).
Oleh karena itu, sebaiknya bagi seluruh kelompok pengajian atau organisasi da’wah islam apapun modelnya. Agar diantara kita menghindari perpecahan dan tidak saling tajassus (saling mema-matai). Agar kita semua dapat memenuhi ketiga syarat diatas, terutama yang ketiga. Dengan jalan kita sebarkan kesadaran umat ini untuk berjamaah dan berimamah secara murni dan konsekuen yaitu  agar terwujudnya tujuan dak’wah yang bersifat kaffah baik itu vertikal maupun horizontal.

Catatan penulis ketika kuliah di PUTM



0 komentar: