Kamis, 24 Mei 2012

(intisari) Meraih Pahala Besar Dengan Sedikit Amal

Dalam hal niat, ketika seorang muslim ber-amal tidak terlepas dari niat untuk mendapatkan pahala yang besar dan/atau Ridho Allah. Namun kadang kebanyakan kita tidak mengetahui (ilmunya) untuk ber-amal..bahkan kebanyakan hanya mengikuti kebanyakan orang

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya);
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” QS. Al An’aam:116

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

“Orang yang berilmu, sedikit amalnya namun lebih banyak pahalanya..”

Bagaimanakah agar “MERAIH PAHALA BESAR DENGAN SEDIKIT AMAL” ?

Beberapa perkara yang harus difahami, agar dapat meraih pahala besar:


1. Memahami Syarat Diterimanya Amal

Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai dengann sunnah
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya);
“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia beramal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya” (QS. Al Kahfi:110)
‘maksudnya mengharapkan pahala dan balasan yang baik yaitu yang sesuai dengan syari’at Allah (dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya).. Inilah dua rukun amal agar diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah dan benar sesuai syari’at Rasululloh Shallallohu’alaihi wasallam’ (Ibnu Katsir-Tafsir Al Qura’anil’adziem)


2. Tidak Ada Pahala Kecuali Dengan Niat

Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya amal itu sah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan (pahala atau siksa) sesuai dengan apa yang ia niatkan,..” [HR. Bukhari dan Muslim]


3. Ibadah Yang Sesuai Dengan Sunnah Lebih Besar Pahalanya Dari Ibadah Yang Tidak Sesuai Dengan Sunnah

Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa mencontohkan kepada umatnya yang paling utama karena beliau adalah suri tauladan yang paling baik bagi umatnya, Allah berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik untukmu, bagi orang yang menginginkan Allah dan hari akhirat dan banyak mengingat Allah” (QS. Al Ahzab:21)

‘Ayat ini adalah dalil yang agung dalam meneladani Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam pada perkataannya, perbuatan dan keadaannya’ (Tafsir Ibnu Katsir)

Namun yang harus diingat bahwa perbuatan Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam tidak semuanya harus kita ikuti, karena perbuatan Nabi itu bermacam-macam (lihat kitab mandzumah ushul fiqih hal. 111-122 – Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin)


4. Bersikap Sedang Dalam Melaksanakan Sunnah Lebih Baik Dari Bersungguh-sungguh Dalam Bid’ah

Dalam kitab Al hujjah fi bayanil mahajjah (1/111) Ubay bin Ka’ab berkata, “Sesungguhnya bersikap sedang di jalan (Allah) dan sunnah lebih baik daripada menyelisihi jalan dan sunnah, maka lihatlah amalmu dalam kesungguhan dan bersikap sedang, hendaklah ia sesuai dengan manhaj para Nabi dan sunnah mereka”

Karena setiap amal yang bid’ah tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala, sebagaimana hadits Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amal yang tidak ada asalnya dari perintah kami, maka amal tersebut tertolak” [HR. Muslim]


5. Pahala Ibadah Dilipat Gandakan Bila Bertepatan Dengan Waktu Yang Mulia

Begitu banyak dalil-dalil waktu-waktu yang mulia, diantara waktu yang utama adalah waktu sepertiga malam terakhir.
“Rabb kita Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku akan kabulkan, Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan berikan, dan Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku akan ampuni ia” [HR. Bukhari dan Muslim]


6. Pahala Ibadah Dilipat Gandakan Bila Bertepatan Dengan Tempat Yang Mulia

Dalam riwayat Ibnu Majah
“Sholat di masjidil haram lebih utama seratus ribu kali sholat di masjid lain”


7. Ibadah Yang Memberikan Manfaat Kepada Orang Lain Lebih Utama Dari Ibadah Yang Pahalanya Hanya Untuk Diri Sendiri

Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam lebih mengutamakan ahli ilmu di atas ahli ibadah, karena manfaat ilmu amat besar bagi manusia, berbeda dengan ahli ibadah, pahalanya hanya untuk dirinya sendiri.


8. Ibadah Yang Berhubungan Dengan Dzat Ibadah Lebih Utama Dari Ibadah Yang Berhubungan Dengan Tempatnya

Contoh praktek kaidah ini: Mana yang lebih utama; thowaf mendekat ke ka’bah namun tidak dapat melaksanakan sunnah berlari kecil untuk tiga putaran pertama, atau menjauh dari ka’bah namun dapat melakukan sunnah tersebut?
Jawabannya adalah menjauh lebih utama, karena berlari di tiga putaran pertama adalah ibadah yang berhubungan dengan dzat ibadah dan ini lebih utama.


9. Bila Bertemu Dua Ibadah Yang Sama-Sama Diperintahkan, Maka Didahulukan Yang Wajib Dari Ibadah Yang Sunnah

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya’ (HR. Bukhari)

Ibnu Daqiq al ‘ied rahimahullah berkata “Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa ibadah yang sunnah tidak boleh di dahulukan di atas ibadah yang wajib”


10. Apabila Bertemu Dua Kewajiban Maka Dahulukan Ibadah Yang Paling Wajib

Contohnya adalah: menuntut ilmu tauhid lebih diutamakan dan didahulukan dari menuntut ilmu mushtolah hadits, karena ilmu tauhid adalah kewajiban atas setiap muslim untuk mempelajarinya.


11. Ibadah Yang Lebih Memperbaiki Hati Lebih Utama Dari Yang Tidak Demikian

“Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali siapa yang datang dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy Syu’ara:88-89)

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai sebagian amal, beliau menjawab, “lihatlah yang lebih mashlahat untuk hatimu, lakukanlah!”


12. Semakin Sulit Suatu Ibadah Semakin Besar Pahala Yang Diraih

Namun yang harus diingat adalah bahwa tidak setiap pahala besar disesuaikan dengan kesulitan yang ada, terkadang ada faktor lain yang mempengaruhinya.


13. Suatu Amal Semakin Besar Manfaat, Mashlahat dan Faidahnya Semakin Besar Pula Pahalanya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata “Diantara perkara yang harus diketahui bahwa sesungguhnya keridhaan dan cinta Allah tidak terletak pada sebatas menyusahkan jiwa, dan membawanya kepada sesuatu yang berat, sebagaimana yang disangka oleh orang jahil bahwa pahala itu disesuaikan dengan kesulitan pada segala sesuatu.
Tidak demikian! Akan tetapi pahala itu sesuai dengan besar kecilnya manfaat, mashlahat dan faidah amal, juga sesuai dengan ketaatan ia kepada Allah dan Rasul-Nya, maka diantara dua amal ada yang paling baik, dan pelakunya paling taat dan mengikuti (sunnah) maka ia adalah yang paling utama, karena amalan itu tidak berbeda-beda derajatnya hanya dari sisi kuantitas saja, namun berbeda-beda sesuai dengan hasil yang ditimbulkan oleh amal tersebut pada hatinya..” (majmu’fatawa 25/281-282)

Ini menunjukan bahwa kesulitan yang ditimbulkan oleh perbuatan hamba adalah tercela, karena ia telah memperberat agama yang mudah ini, sebagaimana hadits:
“Sesungguhnya agama ini mudah, tidak ada orang yang memperberatnya kecuali akan kalah” [HR. Bukhari]

Adapun kesulitan yang timbul bukan karena perbuatan hamba yang menyulit-nyulitkan maka pahalanya semakin besar sesuai dengan kadar kesulitan tersebut.

Demikianlah beberapa intisari bimbingan untuk meraih pahala besar, semoga Alloh senantiasa menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa ber-amal dengan amal sholih

[Dinukil dan disarikan dari buku “Meraih Pahala Besar Dengan Sedikit Amal” Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.]


Share

0 komentar: