Sabtu, 28 Januari 2012

Apabila Datang Pertolongan Allah dan Kemenangan


Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani pada tahun 1916
adalah perjanjian rahasia antar pemerintah Britania Raya dengan
pemerintahan Perancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan
Rusia, dimana dalam perjanjian ini ketiga negara mendiskusikan
pengaruh dan kendali di Asia Barat setelah jatuhnya Kerajaan
Utsmaniyah pada Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.
Perjanjian ini secara efektif membelah daerah-daerah Arab
dibawah Kerajaan Otoman diluar Jazirah Arab sehingga dimasa
depan dapat ditentukan dimana kendali atau pengaruh Inggris
atau Perancis akan berlaku. Perjanjian ini ditandatangani pada
tanggal 16 Mei 1916 dan diberi nama sesuai dengan diplomat
Perancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark
Sykes.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata kepada sahabat Mu’adz ibnu Jabal,
“Maukah kuberitahukan padamu pokok amal, tiang, serta puncaknya?” Mu’adz menjawab,
“Mau, ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.” Beliau bersabda, “Pokok amal adalah
Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR Tirmidzi)

BAGAI HIDANGAN

“Akan tiba suatu masa dimana umat ini dipermainkan oleh umat-umat lain, seperti makanan di atas meja.”
Seseorang lalu bertanya, “Apakah jumlah kami saat itu sangat kecil?” Ia (Rasulullah Saw) menjawab, “Tidak, jumlah
kalian sangat banyak saat itu. Namun kalian akan tercerai berai dan terbagi-bagi bagai makanan diperebutkan di atas
meja, dan Allah telah mengambil ketakutan pada kalian dari hati musuh-musuh kalian dan menempatkan wahn di hati
kalian.” Seseorang bertanya,” Apa itu wahn?” Rasulullah Saw menjawab,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).
Pada 1902, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi
Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara
Yahudi, untuk kesekian kalinya menghadap
Khalifah Abdul Hamid II. Setelah berbagai bujuk
rayunya gagal, kedatangannya kali ini untuk
menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam
tersebut.
Hertzl menyodorkan:
(1) uang 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan;
(2) Membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah
yang mencapai 33 juta poundsterling;
(3) Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan
biaya 120 juta frank;
(4) Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga;
dan
(5) Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.
Khalifah menolak, ia tetap teguh dengan
pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina
dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau
menemui Hertzl, melalui Tahsin Basya, ia
menyampaikan, “Nasihati Mr Hertz agar jangan
meneruskan rencananya. Aku tidak akan
melepaskan walaupun sejengkal tanah ini
(Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu
adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad
demi kepentingan tanah ini dan mereka telah
menyiraminya dengan darah mereka.”
***
Hari ini pada saat darah orang-orang Islam
mengalir dan ditumpahkan, di Palestina,
Chechnya, Philipina, Kasymir dan Sudan, dan
anak-anak Islam mati lantaran embargo Amerika
di Irak. Dan ketika luka-luka belum sembuh, sejak
serangan-serangan salib terhadap dunia Islam
pada kurun yang lalu, dan yang merupakan hasil
dari kesepakatan Sykes-Picot antara Inggris dan
Prancis, yang menyebabkan dunia Islam terbagi-
bagi menjadi potongan-potongan, sedangkan
para kaki tangan salib masih berkuasa di
dalamnya sampai hari ini.
Tiba-tiba keadaan yang serupa
menghadang dengan kesepakatan Sykes-Picot,
yaitu kesepakatan Bush-Blair, akan tetapi
kesepakatan itu di bawah bendera yang sama
dan dengan tujuan yang sama. Benderanya
adalah bendera salib dan tujuannya adalah
merampas dan menghancurkan umat nabi
shollallahu 'alaihi wa sallam yang dicintai.
***
Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani
pada tahun 1916 adalah perjanjian rahasia antar
pemerintah Britania Raya dengan pemerintahan
Perancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan
Rusia, dimana dalam perjanjian ini ketiga negara
mendiskusikan pengaruh dan kendali di Asia Barat
setelah jatuhnya Kerajaan Utsmaniyah pada
Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.
Perjanjian ini secara efektif memecah dan
membelah daerah-daerah Arab dibawah Kerajaan
Otoman diluar Jazirah Arab sehingga dimasa
depan dapat ditentukan dimana kendali atau
pengaruh Inggris atau Perancis akan berlaku.
Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 16 Mei
1916 dan diberi nama sesuai dengan diplomat
Perancis François Georges-Picot dan diplomat
Inggris Sir Mark Syke

HANYA SATU SOLUSI

Seluruh kaum muslimin di barat dan di timur,
menolak proyek Zionis untuk melakukan
yahudisasi kota al Quds. Monopoli terhadap kota
suci al Quds dan yahudisasi padanya, merupakan
pelanggaran terhadap konvensi dan hukum
internasional serta norma-norma, yang melarang
dan mengkriminalkan setiap perubahan pada
karakter tanah, penduduk, dan identitas di
wilayah pendudukan. Yahudisasi al Quds tidak
memiliki legitimasi hukum.
Yahudisasi al Quds dan serangan terhadap
tanda-tanda yang ada di Baitul Maqdis
merupakan garis merah. Orang-orang salib
menduduki wilayah lebih luas dibandingkan apa
yang diduduki Zionis, demikian juga al Quds jauh
lebih lama berada di bawah pendudukan orang-
orang salib dibandingkan Zionis, namun demikian
berhasil dibebaskan.
Al Quds berada di bawah sandera kaum
salib jauh berlipat lamanya dibandingkan di bawah
pendudukan Zionis. Meskipun demikian sejarah
telah berlalu – tidak ada perbedaan – bahwa
lembaran penjajahan berhasil dihapus dan bekas-
bekas agresi musuh terhadap hak-hak dan
tempat-tempat suci bisa dihilangkan.
Orang-orang Zionis yang bersandar kepada
kekuatan imperialis barat, dalam upayanya
melakukan yahudisasi al Quds – hanya
mempertaruhkan masa depan Yahudi sendiri dan
sudah melanggar garis merah umat Islam yang
berjumlah seperempat total penduduk dunia,
umat yang mampu – dalam waktu dekat – untuk
merebut kembali hak-haknya yang dirampas.
Jalan yang ditempuh Shalahuddin
bagaimana cara pembebasan kota al Quds, ketika
dia menulis surat kepada Raja Salib Richard si
Hati Singa,
"Anda jangan berpikir bahwa kami bisa
menyerahkan al Quds, tidak pernah, demikian
juga kami, sebagai umat muslim, tidak mungkin
bisa menyerahkan hak-hak kami di al Quds, dalam
kondisi apapun, anda tidak akan bisa mengambil
satu batu pun di tanah ini, selama masih ada
jihad."
***
Hanya jalan itu pula - yang kini ditempuh
oleh generasi penerus - yang akan dapat
membebaskan tempat suci itu dari para penjajah.
“Jihad and the rifle alone; no negotiations,
no conferences, and no dialogues”.
"Saya Bersumpah Demi Allah Yang Maha
Agung, Yang Meninggikan Langit Tanpa Tiang:
Amerika dan orang-orang yang hidup di Amerika
takkan bermimpi AMAN sebelum kami hidup AMAN
di Palestin dan sebelum Tentara Kafir keluar dari
Bumi Muhammad Rosulullah SAW, Allahu Akbar!
Kejayaan Milik Islam..."
“...Kepada saudara-saudara kami di
Palestina, kami katakan: Darah anak-anak kalian
adalah darah anak-anak kami, darah kalian adalah
darah kami... Darah dibalas darah, penghancuran
dibalas penghancuran...”
“Kami bertempur di Bumi Rofidain,
sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.
“Demi Alloh! Kami akan menolong kalian
meski harus berjalan merangkak di atas lutut kami,
hingga kita meraih kemenangan, atau kami
merasakan apa yang telah Hamzah ibn Abdul
Muttolib rasakan !”

MEMENGGAL KEPALA ULAR

srael bisa menjajah dan selalu bertingkah biadab di Palestin lantaran dukungan Amerika dengan
pasukan koalisi salibisnya. Untuk mengusir Israel dari Palestin kepala ularnya mesti dipenggal.
Untuk seorang lelaki yang bertahun-tahun
hidup di gua, Usamah bin Laden betul-betul faham
(strategi perang) Sun Tzu dan dasar-dasar
jujitsu-nya. Diktum terkenal Sun Tzu adalah
“kenalilah dirimu” dan “kenalilah musuhmu.” Jujitsu
didasarkan pada penggunaan kekuatan musuh
melawan dirinya sendiri, seperti Jack dalam "Jack
and the Beanstalk," yang menggunakan ukuran
dan kemarahan sang raksasa untuk
menjatuhkannya dengan berat badannya sendiri.
Bin Laden mengerti bahwa untuk
mengalahkan Amerika adalah dengan
membalikkan tenaga Amerika terhadap dirinya
sendiri. Tujuan pertamanya adalah untuk
membangkrutkan Amerika. Dia mengetahui
kelemahannya, dan dia sangat memahami
kelemahan Amerika, bagaimana kebanggaan dan
ketakutannya bisa memicu reaksi-reaksi yang
irasional dan menghancurkan diri sendiri (self-
destructive).
Berikutnya, Utley juga memperlihatkan
kejeniusan Syaikh Usamah bin Laden dalam
memancing Amerika dengan serangan-serangan
“kecil” yang hanya menghabiskan beberapa ratus
ribu dollar, tetapi kemudian menarik Amerika ke
dalam dua perang bernilai multi-triliun-dollar yang
tak berujung, yang bahkan Amerika sendiri tidak
tahu jalan keluarnya (Invasi atas Afghanistan
dan Irak).
Pancingan yang dimaksud Utley ini
tampaknya merujuk pada Serangan 11 Septem-
ber (The Manhattan Raid 9/11) yang
menggemparkan itu. Menurut Utley, Usamah bin
Laden tentunya mengetahui bahwa kelompok
neoconservative cabal di Washington sudah gatal
untuk memulai perang dan menghancurkan Irak.
Meskipun, jika merujuk pada penjelasan yang
dikutip dalam video yang dirilis oleh As-Sahab
(The Manhattan Raid: Knowledge is for Acting
Upon), disebutkan bahwa militer Amerika sudah
merencanakan dan mempersiapkan penyerangan
terhadap Irak dan Afghanistan jauh-jauh hari
sebelum terjadinya 9/11, seperti yang kemudian
diungkapkan oleh salah seorang Jenderal
Amerika, Tommy Franks, bahwa persiapan perang
terus dilakukan sampai tanggal 10 September.
Dalam video tersebut, Saudara Azzam
Amriki kemudian menjelaskan, “Pada pertengahan
2001, ancaman dan peringatan menjadi semakin
sering juga semakin spesifik. Saya ingat
mendengar seorang mantan diplomat Pakistan
mengatakan kepada BBC berbulan-bulan sebelum
serangan 11 September, bahwa Amerika telah
menginformasikan kepada sekutu-sekutunya
pada sebuah pertemuan di Jerman mengenai
rencana mereka untuk menginvasi Afghanistan
pada Musim Gugur sebelum musim salju pertama,
yang kemudian memang mereka lakukan. Dengan
demikian, kami telah mengetahui bahwa serangan
ini akan dilancarkan, pertanyaannya adalah,
apakah kami harus duduk dan menunggu, atau
kami kejutkan mereka dengan mendahului
menyerang.”
Sedangkan Utley memandang bahwa
Usamah Bin Laden memahami bagaimana kaum
fundamentalis relijius Amerika, yang berkuasa di
Washington, bisa didorong ke dalam peperangan
agama yang berlanjut. Utley menambahkan, “Dia
mengenal’ mereka (kaum fundamentalis
Amerika) karena dia juga memahami kaum
fundamentalis Muslim-nya sendiri, sebagaimana juga
dia memahami fundamentalis Israel. Dalam sebuah
pesta di rumah saya pada tahun 2002, saya
mengatakan kepada ekonom brilian Peru Hernando
de Soto bahwa, tentu saja, tujuan Bin Laden adalah
mengeluarkan Amerika dari Timur Tengah. Dia (de
Soto) menjawab kepada saya, ‘Bukan hanya itu,
tetapi juga keluar dari seluruh Dunia Ke-tiga!’”
Dengan kata lain, kedua intelektual ini juga bisa
melihat bahwa tujuan Syaikh Usamah bin Laden
bukan hanya menghentikan agresi Amerika dan Israel
yang terus meluas, tetapi juga menghancurkan aliansi
imperialis zio-salibis ini di dunia secara keseluruhan.
Utley kemudian menguraikan lima hal yang
menurutnya menjadi penyebab keruntuhan Amerika,
yang pada intinya, dia melihat bahwa semua itu
bersumber dari terkurasnya anggaran belanja
Amerika dan terbebaninya ekonomi Amerika secara
jangka panjang oleh hutang (yang melonjak dari $5
triliun hingga menjadi $10 triliun, belum terhitung
triliunan dollar hutang Amerika baru-baru ini) untuk
membiayai perang melawan Al-Qaida yang ternyata
bertahan lama dan terus menggerogoti ekonomi
Amerika dan sekutunya. (Aanalisisa Jon Basil Utley yang
mengungkapkan penyebab kebangkrutan Amerika)


RAKSASA IU ROBOH

Pada peringatan 10 tahun peristiwa 9/11
WTC, terlihat dengan jelas bahwa apa yang
disebut dengan ‘perang melawan terorisme’ yang
dipimpin oleh Amerika telah gagal total. Dengan
cara apapun menilainya, AS dan sekutunya di
seluruh dunia telah kalah perang.
Alih-alih mengurangi resiko terjadinya
kembali peristiwa 9/11, kemungkinan terjadinya
kembali peristiwa 9/11 malah lebih besar dari yang
pernah ada. Selain peduli dengan masalah
keamanan Irak dan Afghanistan, dunia Muslim
saat ini berlomba-lomba untuk dapat menerapkan
syariat Islam di wilayah mereka masing-masing,
terlibat dalam jihad, dan berupaya untuk
mengakhiri hegemoni camp kafir kapitalisme.
Bahkan, faktanya dalam peringatan 10 tahun
peristiwa 9/11, bisa diklaim kemenangan berada
di camp mujahidin atas musuh-musuh mereka.
Banyak faktor penyebab yang telah
berkontribusi atas hal tersebut, salah satunya
adalah pernyataan terkenal George Bush yang
memulai kampanye perangnya dengan ucapan:
“Anda bersama kami atau dengan teroris”, dan
fakta bahwa dia terlibat dalam “perang salib ini”.
Upaya untuk memenangkan hati dan pikiran umat
Islam telah gagal. Bahkan, orang-orang non-
Muslim telah menyaksikan sendiri penyiksaan,
pembunuhan dan penindasan oleh mereka yang
seharusnya menjadi benteng kebebasan, dan
demokrasi.
Kebohongan Bush, Rumsfeld, Cheney dan
Blair atas tuduhan adanya senjata pemusnah
massal di Irak, telah menjatuhkan diri mereka
sendiri dan Negara mereka di mata penduduk sipil
yang tidak bersalah. Tidak adanya penyiksaan,
penahanan seseorang sebelum terbukti
bersalah, peradilan yang adil, selama 10 tahun
ini telah diganti dengan basa-basi, seperti
kepentingan keamanan nasional. Padahal AS
awalnya berkeinginan dan berjanji untuk
melindungi warga sipil tak berdosa di Irak dari
kebrutalan Saddam Hussein. Hari ini, AS dan
sekutu-sekutunya dengan senang hati mengambil
peran penindas terdahulu dan kini terwujud di
penjara Guantanamo, Bagram, Abu Ghroib,
dimana ketidakadilan dan kedzoliman dilakukan
dengan lebih cermat dan terbuka.
Di masa Obama, AS berupaya menyelamat kan
muka dengan menarik paksa semua pasukan yang
dipimpin AS dari tanah kaum Muslimin, disertai
kesepakatan besar untuk kematian Syekh Usamah
bin Ladin. Namun, hal ini malah menjadi bumerang
dan memicu pertempuran yang lebih dahsyat untuk
menyerang camp tentara salib, sebagai janji 100
operasi serangan sebagai pembalasan atas
kematian Syekh Usamah, dan janji akan kelahiran
100 Syekh Usamah yang sudah mengantri untuk
mengambil alih perang melawan musuh nomer satu
kaum Muslimin, yakni Amerika.
Hal ini masih ditambah dengan bencana
kelaparan, dimana perang secara sistematis telah
menghancurkan perekonomian AS. Kelompok anti
perang di AS telah menciptakan opini publik tentang
perang, tingkat bunuh diri para tentara AS yang
sebelumnya tidak pernah terjadi, kebencian global
dunia kepada AS dan Inggris yang disebabkan oleh
perang, dan penyebaran ideologi Al Qaeda di
kalangan pemuda Muslim yang begitu cepat bagaikan
tsunami. Seluruh hal tersebut melengkapi kesimpulan
bahwa AS memang telah kalah dalam perang ini
secara lengkap dan memalukan.
Ironisnya, sepuluh tahun terakhir inilah yang
mengakibatkan terjadinya radikalisme pemuda,
pelaksanaan operasi-operasi syahid terhadap AS
dan sekutunya, dan mendorong kaum Muslimin untuk
lebih menggali pemahaman yang mendasar dan
tanpa kompromi. Insya Allah, sejarah akan mencatat
bahwa awal dari akhir kekuasaan Amerika dan benih
untuk pembentukan kembali Daulah Islam di kalangan
umat Islam dimulai pada tanggal 11 September 2001.

Hanya dalam beberapa tahun, Romawi (AS)
kalah di Afghanistan. Dan mereka setelah
kekelahannya akan diusir. Maka dijungkirkanlah
panji mereka, dipatahkan salib mereka, Allah
muliakan dien-Nya, Allah tolong tentara-Nya,
Allah muliakan kitab-Nya sementara mereka dalam
keadaan marah.
Beberapa tahun yang lalu pemimpin mereka
yang tertipu (George Walker Bush)-yang seka-
rang telah dilemparkan di tempat sampah sejarah-
berbicara dengan segenap kesombongan dan
kecongkakannya, ia membagi dunia menjadi dua
bagian dan berkata, “Siapa yang tidak bersama
kami maka ia musuh kami.” Maka banyaklah or-
ang yang tunduk, ikut, bergabung dan berbaris
di belakangnya.
Sementara itu para pembela kebenaran dan
orang-orang beriman tegak berdiri dengan
Allah Azza wa Jalla telah menjanjikanku dengan
kemenangan dan kami akan melihat janji yang
mana yang akan terwujud.”
Sekarang, terlihat janji yang mana yang
terwujud. Sesungguhnya itulah janji Dzat yang
tidak akan mengingkari janji-Nya.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. “
(QS. Muhammad [47]: 7)
Tanda-tanda kemenangan jelas terlihat di
cakrawala dan tanda-tanda kekuasaan telah
nampak bagi setiap mukmin yang jujur dan
percaya dengan janji Allah.
Sesungguhnya itu pertempuran melawan
Amerika yang mana penduduk barat dan timur
sujud kepadanya dan yang apabila namanya
disebut menggigillah mereka ketakutan,
terbanglah hati mereka dan terbelalaklah mata
mereka. Seakan-akan Amerika adalah Tuhan –
Maha Tinggi Allah dari semua itu dengan
ketinggian yang besar.
Adapun sekarang, mana Amerika. Mana
kekuatannya. Mana kesombongannya. Mana
keangkuhannya. Mana kecongkakannya. Mana
wibawanya. Semua itu telah jatuh di bawah
telapak kaki telanjang orang-orang fakir dan
lemah yang hidup di lembah-lembah, di puncak-
puncak bukit, di bawah-bawah pohon,
kedinginan, kepanasan, kesempitan, dan
kelaparan. Namun mereka merasa mulia dengan
dien mereka dan bertawakkal kepada Rabb
mereka dan percaya dengan janji Allah
subhanahu wa ta’ala sampai Allah rendahkan
imperium ini melalui tangan mereka.
Amerika sekarang hidungnya telah
dibenamkan di lumpur-lumpur Afghanistan dan
Iraq. Ia telah direndahkan sebagaimana impe-
rium-imperium sebelumnya direndahkan.
Sekarang ia mencari jalan keluar dari Afghani-
stan. Mereka mengatakan, “Strategi baru” Yang
tidak lain kecuali strategi kabur dan melarikan
diri serta menyelamatkan diri dengan membawa
apa saja yang bisa diselamatkan.
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul
Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-
saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir [40]: 51)
Adalah janji dari Allah subhanahu wa ta’ala
dan informasi dari nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa dienul Islam yang akan Allah
menangkan atas seluruh dien dan akan tersebar
merata ke seluruh penjuru bumi dari belahan timur
sampai belahan barat. Tidak akan tersisa satu
rumah, tidak akan tersisa satu kota, tidak pula
satu kampung baik kecil maupun besar kecuali
akan Allah akan masukkan ke dalamnya dienul
Islam dan penghuninya akan memeluk dienul Is-
lam dan akan berada di bawah kekuasaan Islam.
Informasi ini pasti terjadi. Apa yang
dilakukan musuh-musuh Allah ‘Azza wa Jalla
berupa pengorbanan dengan harta, makar yang
dilakukan siang dan malam untuk memadamkan
cahaya Allah ‘Azza wa Jalla akan hilang sia-sia
seperti debu ditiup angin. Semua itu akan menjadi
sesalan di hati mereka. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir
menafkahkan harta, mereka
untuk
menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka
akan menafkahkan harta itu, kemudian
menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka
akan dikalahkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 36)
“Apabila telah datang pertolongan Allah
dan kemenangan, dan kamu lihat manusia
masuk agama Allah dengan berbondong-
bondong, maka bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima
taubat.” (QS. An-Nashr [110]: 1-3)

0 komentar: