Senin, 23 Januari 2012

Sanad (Silsilah) Talqin Kaum Sufi

www.sufinews.com
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Adapun penjelasan tentang sanad (silsilah) kaum sufi dalam mendikte dan membimbing secara lisan (talqin) kalimat Tauhid: La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) kepada para murid (para pemula yang ingin mencari tarekat) adalah sebagaimana yang diriwayatkan berikut ini: Bahwa Rasulullah Saw. pernah mendikte dan membimbing para Sahabatnya secara lisan akan kalimat Tauhid, La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) secara berjamaah dan individu. Dimana silsilah sanad mereka bersambung dan masing-masing kepada jamaah kaum yang dibimbing.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani dan lain-lain dengan sanad yang baik (hasan), dari Sadad bin Aus dan dibenarkan oleh Ubadah bin Shamit, yang menceritakan: Suatu hari kami pernah berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu beliau bertanya, ‘Apakah diantara kalian terda pat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”.

Lalu kami (para Sahabat) menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menutup pintu dan berkata, ‘Angkatlah tangan kalian dan ucapkan: “La Ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah).” Sadad bin Aus berkata: Kemudian kami mengangkat tangan kami sesaat dan mengucapkan kalimat, “La Ilaha IllaLlahu” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah). “Lalu Rasulullah meletakkan tangannya sembari berdoa:

“Segala puji hanya milik Allah, ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan membawa Kalimat ini, Engkau memerintahku dengan Kalimat ini, Engkau telah menjanjikanku surga atas Kalimat ini, dan sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.“

Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada para Sahabat, “Apakah kalian tidak senang, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian ?”

Ini adalah dalil bagi para guru tarekat dalam men-talqin dzikir kepada para jamaah secara bersamaan. Adapun dalil mereka dalam men-talqin dzikir secara sendiri-sendiri, maka saya tidak mendapatkannya dalam kitab-kitab para ahli hadis yang sempat saya telaah, akan tetapi Tuan Guru Yusuf al-Ajami, seorang guru silsilah telah meriwayatkan dalam risalahnya dengan sanad yang mutashil (sambung) sampai kepada Ali bin Abu Thalib r.a. yang mengatakan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah Saw, “Tunjukkan aku jalan (cara) yang lebih dekat kepada Allah Azza wa-Jalla dan paling mudah untuk dilakukan oleh para hamba serta paling utama di sisi Allah Swt.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Ali, engkau harus melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla, baik secara sirri (rahasia) atau keras (terang-terangan).” Lalu aku menyahut, “Semua orang bisa berdzikir, wahai Rasulullah! Akan tetapi yang kuinginkan adalah engkau mau mengkhususkan sesuatu untukku.” Maka Rasulullah Saw bersabda:

“Jangan, wahai Ali, sebaik-baik apa yang aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah kalimat, ‘La Ilaha IllaLlah.’ Dan andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan tetap mengungguli (lebih berat).”

Untuk menguatkan Hadis ini adalah Hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain dengan Hadis Maifu’ (sampai kepada Rasulullah Saw): Bahwa Musa a.s. pernah berkata kepada Tuhannya, “Ya Tuhan, ajari aku sesuatu, yang dengan sesuatu itu aku bisa mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.” Kemudian Allah menjawab, “Wahai Musa, ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Lalu Musa berkata, “Wahai Tuhan, seluruh hamba-Mu telah mengucapkan kalimat ini,” Allah menjawabnya, “Ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Musa balik berkata, “Ya Tuhanku, aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan untukku. “ Allah menjawab, “Wahai Musa, andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan miring (lebih berat).”

Hadis ini adalah sebanding dengan apa yang ditanyakan Ali r.a. kepada Rasulullah Saw. Dan dalam Hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Ali r.a., “Wahai Ali, Kiamat tidak akan segera terjadi sementara di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan, Allah’.”

Tuan Guru Yusuf al-Ajami mengatakan: Kemudian Ali r.a. meminta kepada Rasulullah Saw. untuk membimbing dzikir secara lisan (talqin) sembari berkata: “Bagaimana aku berdzikir?” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, kemudian kamu ucapkan, La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) tiga kali, sementara aku mendengarkanmu.” Kemudian Rasulullah Saw. mengucapkan: La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Ali mendengarkannya. Lalu Ali r.a. menirukannya dengan mengucapkan La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Nabi Saw. mendengarkannya.

Saya tidak menemukan dalil dan landasan tentang cara yang diajarkan Rasulullah Saw. kepadaAli r.a. ini. Sementara hanya Allah yang Mahatahu.

Tuan Guru Yusuf al-Jami —rahimahullah— mengatakan: Rasulullah Saw. memerintahkan para Sahabat untuk menutup pintu ketika beliau hendak membimbing dzikir secara lisan kepada para Sahabatnya dengan lebih dahulu bertanya, ‘Apakah diantara kalian terdapat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”—sebagaimana Hadis di muka— adalah untuk mengingatkan bahwa tarekat kaum sufi dibangun atas dasar ketertutupan. ini berbeda dengan Syariat suci. Sehingga seorang pengikut tarekat kaum sufi tidak diperkenankan membicarakan hakikat di depan orang yang tidak meyakininya, karena dikhawatirkan bisa berakibat mengingkarinya, dan kemudian membenci!

Dari sini sebagian dari para ahli hadis mengingkari bahwa Hasan al-Bashri pernah mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir kalimat (Tidak ada Tuhan selain Allah dari Ali r.a., karena sangat langkanya dan sedikitnya argumentasi untuk menguatkan akan hal itu secara masyhur. Bahkan sebagian dari mereka juga mengingkari bahwa Hasan al-Bashri sempat berkumpul dengan Ali bin Abu Thalib r.a., apalagi tentang kesempatan mendapatkan bimbingan tarekat dari Ali r.a. Tapi yang benar, ia sempat berkumpul dengan Ali r.a. dan ia sempat mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) dari Ali r.a. dan Ali pun sempat memakaikan serpihan kain (khirqah) kepada al-Hasan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dan muridnya, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahumallah— meriwayatkan, dimana ia mengatakan bahwa sanadnya sahih dan para perawinya juga bisa dipercaya: Sesungguhnya Hasan al-Bashri pernah berkata: ‘Aku pernah mendengar Ali r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:‘Umatku ibarat hujan, tidak diketahui mana yang terbaik, yang pertama atau yang terakhir?’.”

Dalam riwayat lain dari Hasan al-Bashri yang mengatakan: Aku pernah mendengarAli r.a. di Madinah, ’dimana ia mendengar suara, lalu ia bertanya: “Apa gerangan ini?” Orang-orang menjawab, “Utsman bin Affan terbunuh!!” Lalu ia berkata: “YaAllah, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu, bahwa aku tidak rela dan tidak peduli [siapa pun pembunuhnya].”

Dalam Musnad Ibnu Musdi, dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Aku pernah berjabat tangan dengan Ali bin Abu Thalib r.a.”

Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— mengatakan: “Menurut hemat saya dan juga sekelompok para Huffazh (penghafal Hadis) riwayat Hasan al-Bashri dan Alii bin Abu Thalib r.a. memang benar dan ada.”

Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— juga mengatakan: Demikian halnya apa yang dikemukakan guru kami, al-Hafizh Ibnu Hajar juga sama dengan pernyataan kami, dimana ia memberikan dukungan, dengan mengatakan: Hal ini bisa diperkuat oleh berbagai aspek: Pertama, bahwa apa yang ditetapkan (mutsbat) akan didahulukan daripada yang meniadakan (menafikan); Kedua, al-Hafizh menyebutkan, bahwa Hasan al-Bashri pernah shalat di belakang Utsman bin Affan r.a.. Dan ketika Utsman terbunuh, maka ia shalat di belakang Ali r.a. ketika ia datang di Madinah. Ia juga pernah berkumpul dengan Ali r.a. setiap hari sebanyak lima kali. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan hal ini secara panjang lebar pada bagian yang ia tulis mengenai kebenaran mengenakan serpihan kain, tarekat al-Qadiriah, ar-Rifa’iah dan as-Suhrawardiah. Maka sebaiknya anda merujuk kembali pada penjelasannya.

Maka bisa diketahui, bahwa sanad talqin (bimbingan dzikir secara lisan) dan mengenakan serpihan kain (khirqah) yang berlaku di kalangan ulama salaf antara satu dengan yang lain tidak terdapat sanad yang tetap sesuai dengan cara yang ditempuh para ahli hadis, karena mereka telah berprasangka baik terhadap generasi pendahulunya. Sampai pada akhirnya muncul al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi serta orang-orang yang sependapat dengan mereka. Kemudian mereka menyatakan benar dan sahih, bahwa Hasan al-Bashri pernah mendengar Ali r.a. Mereka juga menjadikan sanadnya bersambung (mutashil) sampai kepada al-Bashri. Maka anda jangan heran dan merasa aneh, wahai saudaraku, bila sebagian para ahli hadis menyatakan Mauquf (berhenti) tentang persambungan sanad mengenakan serpihan kain dan bimbingan dzikir secara lisan, karena memang hal itu tidak bisa dilakukan, dimana sebagian besar kaum sufi merasa kesulitan untuk mengeluarkan (takhrij) dan kitab-kitab para ahli hadis. Semoga Allah Swt. senantiasa memberi rahmat kepada Ibnu Hajar dan Jalaluddin as-Suyuthi yang telah menjelaskan tentang persambungan sanad masalah tersebut.

Insya Allah hal mi bakal kamijelaskan lebih lanjut ketika kami membicarakan teiitang sanad mengenakan serpihan kain, dimana Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi tidak pernah melihat persambungan sanad mengenakan serpihan kain melalui cara menukil (mengalihkan kepada orang lain) secara lahiriah. Kemudian ia mengambilnya melalui Nabi Khidhir a.s. ketika ia sedang berkumpul dengannya, sampai akhirnya dijadikan sebagai rujukan dalam sanad. Dan segala puji hanya milik Allah.

Bila sekarang anda telah tahu akan kebenaran dan kesahihan sanad kaum sufi dan sambungnya sanad taiqin dan Nabi Saw. kepada Ali bin Abu Thalib r.a., maka Au r.a. juga mentaiqin Hasan al-Bashri, kemudian Hasan al-Bashri men-talqin Habib al-Ajami, dan Habib al-Ajami men-talqin Dawud ath-Tha’i, kemudian Dawud ath-Tha’i men-talqin Ma’ruf al-Karkhi, kemudian Ma’ruf al-Karkhi men-talqin Sari as-Saqathi, kemudian Sari as-Saqathi men-talqin Abu al-Qasim al-Junaid, kemudian al-Junaid men-talqin al-Qadhi Ruwaim, kemudian Ruwaim men-talqin Muhammad bin Khafif asy-Syirazi, kemudian Ibnu Khafif men-talqin Abu al-Abbas an-Nahawandi, kemudian an-Nahawandi men-taiqin Syekh Faraj az-Zanjani, kemudian az-Zanjani men-talqin Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi, kemudian Syekh Syihabuddin men-talqin Syekh Najibuddin Burghusy asy-Syirazi, kemudian Ibnu Burghusy men-talqin Syekh Abdush-Shamad an-Nathtani, kemudian Syekh Abdush-Shamad men-talqin Syekh Hasan asy-Syamsiri, kemudian asy-Syamsiri men-talqin Syekh Najmuddin, kemudian Syekh Najmuddin men-talqin Syekh Mahmud al-Ashfahani, kemudian Syekh Mahmud men-talqin Syekh Yusuf al-Ajami al-Kurani, kemudian Syekh Yusuf men-talqin Syekh Hasan at-Tustari yang dimakamkan di dekat jembatan al-Muski Mesir al-Mahrusah, kemudian Syekh Hasan men-talqin Syekh Ahmad bin Sulaiman az-Zahid, kemudian az-Zahid men-talqin Syekh Madyan, kemudian Syekh Madyan men-talqin Syekh Muhammad, putra dan saudara perempuan Madyan, Tuan Guru Muhammad men-taiqin Syekh Muhammad as-Surawi dan Syekh Ali al-Murshifi. Kedua Tuan Guru tersebut yang membimbing kami bertobat dan men-talqin hamba yang selalu membutuhkan pertolongan Allah ini Abdul-Wahab bin Ahmad asy-Sya’rani, penulis risalah ini.

Kemudian saya juga pernah mendapatkan bimbingan dzikir secara lisan (talqin) dari Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi, seorang murid dan kedua guru saya yang terakhir tersebut, dimana beliau membimbing saya dalam bertobat dan memberi izin saya untuk men-talqin dzikir dan mendidik para murid sufi, untuk meniru dan mencari berkah terhadap tarekat kaum sufi.

Sayajuga memiliki jalur tarekat lain yang sanadnya lebih dekat dan kedua sanad di atas, dimana saya pernah mendapatkan bimbingan secara lisan dari Syekh Islam Zakaria al-Anshani, dimana ia mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Muhammad al-Ghamari, murid dari Tuan Guru Ahmad az-Zahid, teman dari Syekh Madyan. Sehingga silsilah antara saya dengan Syekh az-Zahid hanya ada dua orang. Darij alur ini saya sejajar dengan Tuan Guru Muhammad as-Surawi, guru dari Syekh Muhammad asy-Syanawi. Akan tetapi dan jalur ini tidak ada yang mengizinkan saya untuk men-talqin dan mendidik para murid sufi, selain Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi.

Saya juga merniliki jalur tarekat lain, selain jalur-jalur di atas, dimana antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya terdapat dua orang silsilah. Jalur ini saya dapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ali al-Khawwash, dimana dia pernah mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ibrahim al-Matbuli yang langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah Saw. secara sadar dengan lisan dan dengan cara yang sudah dikenal di kalangan kaum sufi di alam ruhaniah. Kemudian Tuan Guru Ali al-Khawwash sebelum wafat juga mendapatkan bimbingan langung dari Rasulullah Saw. tanpa perantaraan silsilah orang lain, sebagaimana yang pernah didapatkan oleh gurunya, Syekh Ibrahim al-Matbuli. Dengan demikian antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya ada satu orang silsilah. Jalur tarekat ini hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan di Mesir sampai saat ini. Sebagaimana yang saya jelaskan dalam Kitab al-Minan wal-Akhlaq dan dalam Kitab al-’Uhud al-Muhammadiyyah. Dan hanya Allah yang Mahatahu.

Ketika Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— membimbingku dzikir secara lisan, ia menyenandungkan bait syair berikut:

Aku bingung di malarnku, selagi aku hidup.

Jika aku mati, maka siapa yang akan bingung setiap malamnya setelahku, Kemudian dia berkata kepadaku: Sudah menjadi tradisi para guru tarekat sufi, setelah mereka men-talqin muridnya akan menyebutkan sanad (silsilah) talqin yang mereka dapatkan dari guru sebelumnya, dan menyebutkan sanad mengenakan serpihan kain (khirqah) kepada sang murid sebelum sang guru mengenakan serpihan kain tersebut kepada sang murid. Dia juga memberi tahu saya, bahwa di NegaraYaman sana terdapat jamaah yang memiliki sanad talqin bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw. Mereka membimbing bacaan shalawat kepada sang murid, sehingga mereka sibuk untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sang murid akan terus memperbanyak shalawat kepada Nabi, sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasulullah Saw. secara sadar dan berbicara secara lisan. Ia bisa bertanya kepada Nabi tentang beberapa kejadian sebagaimana seorang murid yang bertanya kepada gurunya. Tingkatan spiritual sang murid ini ternyata naik begitu cepat dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga ia tidak butuh lagi bimbingan dari para guru sufi, karena langsung dibimbing oleh Rasulullah Saw. sendiri.

Syekh Muhammad asy-Syanawi melanjutkan pembicaraannya: Guru kebenaran dalam menempuh jalur tarekat tersebut adalah ia bisa bertemu dengan Nabi Saw —sebagaimana yang kami sebutkan. Kalau ia tidak berhasil bertemu dan berkumpul dengan Nabi Saw. maka jalur tarekatnya jelas tidak benar. Dan diantara orang yang bisa berhasil bertemu dengan Nabi Saw. adalah Syekh Ahmad az-Zawawi ad-Damanhuri, dimana wirid shalawatnya kepada Nabi Saw. setiap harinya sebanyak lima puluh ribu kali shalawat dengan lafal berikut:

“Ya Allah, semoga shalawat (rahmat) tetap Engkau berikan kepada Junjungan kita Muhammad, seorang Nabi yang Llmmi dan kepada keluarga serta para Sahabatnya, dan juga salam sejahtera kepadanya.”

Dan diantara orang yang juga berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Nuruddin asy-Syanwani, pendiri majelis shalawat yang ada di Jami al-Azhar. Termasuk juga orang yang berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Muhammad Dawud al-Mauzalawi, Syekh Muhammad al-SAil ath-Thanaji, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan sekelompok orang yang kami sebutkan dalam Mukadimah Kitab al-Vhud 4- Muhammadiyyah dan generasi terdahulu dan sekarang.

Saya mengambil tarekat shalawat mi melaluij alur Syekh Nuruddin asy-Syanwani yang mengatakan: “Bahwa diantara syarat-syaratnya adalah makan makanan yang halal, tidak menyibukkan diri dengan apa pun selain apa yang diizinkan oleh Syariat.” Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam.

0 komentar: