Minggu, 29 Januari 2012

KETENANGAN...


Perkembangan dunia yang kian modern,
menambah seribu satu tantangan terhadap
penghuninya. Perkembangan material meningkat,
namun sudut kerohanian insan mundur dan
hampir hilang. Segenap alat-alat canggih
terwujud untuk memudahkan hidup, namun
terasa dihimpit oleh hari-hari yang mendatang.
Tak sedikit yang berduka di setiap ketentuan
yang melanda, dan terus bertambah duka karena
tidak berdaya menghadapinya. Tak sedikit orang
terus bersedih dalam menghadapi hidup yang
dirasa kian pedih. Hari ini mempunyai kemodernan
di mana-mana, tetapi dirinya lebih tipis dari rumah
laba-laba ketika menghadapi bencana.
Bukanlah hidup itu yang menyempit, wahai
diri yang terasa dihimpit. Tetapi diri itulah yang
merasa kesendirian, dalam menghadapi
kehidupan. Manusia sebagai hamba yang lemah
secara hakikatnya, bagaimana mampu
menghadapi hidup yang semakin menantang
secara bersendirian. Makhluk-makhluk di sekeliling
yang juga lemah, bagaimana diharapkan untuk
terus menemani dalam waktu senang dan sukar.
Mencarilah teman, sebaik-baik teman. Mencarilah
kebersamaan, sebaik-baik kebersamaan.
Hakikat kebahagian adalah, pada rasa
kebersamaan Allah s.w.t. yang tidak pernah
terpisah. Hati kesunyian, di tengah-tengah
kesibukan, karena tiada rasa kehadiran Tuhan,
dalam hati yang semakin kegersangan.
Kebersamaan Allah s.w.t. lah penawar sebaik-
baik yang menyembuhkan.
“...Sesungguhnya dengan dzikrullah, hati
menjadi tenang...” (Qs. Ar-Ra’du: 28)
Dzikrullah yang menyebabkan hati terus
tenang dengan sebenar-benarnya adalah:
ingatan Allah s.w.t. kepada diri. Kalau Allah s.w.t.
tidak mengingati diri kita dengan penuh
kecintaan, niscaya Dia tidak akan menggerakkan
hati kita untuk mengingatinya. Oleh sebab itulah
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajar
doa: “Ya Allah... Bantulah aku dalam mengingati
Mu, mensyukuriMu dan baik ibadahku...”.
Ungkapan Rasulullah -shollallahu ‘alaihi
wasallam- ini mempunyai inti tauhid yang murni,
karena menisbahkan kelemahan diri hatta dalam
beribadah, lalu menlahirkan rasa memerlukan
hanya Allah s.w.t., untuk membantu diri yang
lemah, termasuklah dalam melaksanakan tugas
kehambaan dan dalam mengingati Allah s.w.t..
Andai bukan karena pandangan ridha Allah
s.w.t., niscaya hati tidak terlintas untuk
mengingati Allah s.w.t.. Malah, tak sedikit orang
yang membaca ayat Al-Qur’an berusaha
menggerakkan lisan untuk dzikrullah, namun
tanpa hadir rasa kelemahan bahwasanya diri
tidak dapat mengingati Allah s.w.t, melainkan
dengan bantuanNya, akhirnya gerak lisannya
turut tidak akan membawa hati yang mengingati
Allah s.w.t..
Dzikir lisan ada nilai ibadahnya tersendiri,
tidak dapat dinafikan. Pahala banyak sudah
dijanjikan. Namun kehadiran hati dalam dzikir
merupakan kualitas dzikir itu sendiri. Seseorang
itu, ingatannya adalah di hati. Oleh itu, kehadiran
Allah s.w.t. dalam hati itulah nadi yang membawa
seseorang menghadapi kehidupan seluruhnya
tanpa duka lara.
Menghadirkan adab hamba. Menghadirkan
rasa, diri memerlukan bantuanNya untuk
mengingatiNya, mudah-mudahan dengan itu Al-
lah s.w.t. memperkenankan diri untuk
mengingatiNya. Dan akan membawa diri kepada
mengingati kebersamaanNya dalam hidup.
Nikmat cinta bukan sekedar mengingati yang
dicintai. Akan tetapi, nikmatnya pada mengingati
bahwasanya dirinya diingati oleh yang dicintai.
Andai terasa diri mengingati yang dicintai, itu
belum suatu kemurnian cinta abadi. Cinta abadi
lagi hakiki yang akan menjadi kekuatan dalam diri
adalah, apabila diri mengingati ingatan yang
dicintai terhadap diri kita. Itulah maknanya, cinta
sudah mula mekar mewangi.
Apa lagi andai diri mengerti, bahwasanya
Allah s.w.t. sudah terlebih dahulu mengingati diri
kita sebelum diri mengingatiNya. Ini terlebih indah
dalam menghayati makna cinta. Rupa-rupanya,
Dialah yang terlebih dahulu senantiasa
mengingati kita, sebelum kita mengingatiNya.
Malah, Dialah yang menggerakkan kita untuk
mengingatiNya agar kita menikmati rasa indah
diingati olehNya...Allah Dialah Maha Pencinta,
sebaik-baik Pencinta.
Benar bagai dikata, bahwa merasai diingati
oleh Allah s.w.t. adalah nilai kebahagiaan abadi.
Apalah nilai ingatan kita terhadapNya berbanding
ingatanNya terhadap kita. Dengan melihat
ingatanNya kepada kita, niscaya akan terasa
kebersamaanNya dalam setiap kehidupan kita.
Inilah penenang jiwa abadi.
Pernah Rasulullah saw dicaci oleh orang
Yahudi, yang menuduh Tuhan Baginda sudah
meninggalkan Baginda, karena sudah lama tidak
turun wahyu kepada Baginda s.a.w.. Kepiluan
Baginda kian terasa. Bukan karena celaan si
pencela. Tetapi karena takut ditinggalkan Allah
,Sang Kekasih yang tercinta.
Maka Sang Kekasih Sebaik-baik Pencinta
yang tidak pernah membiarkan para kekasihNya
terus berduka, langsung menampakkan nilai
cintaNya yang Agung nan Mulia seraya
berfirman:
“Tuhanmu (Hai Muhammad) tidak pernah
membiarkanmu dan tidak pernah membenci...”
Sang Kekasih terus memujuk kekasihNya
yang tulus dalam cinta, agar terus memupuk
kehadiran dan kebersamaan Sang Kekasih Agung
dalam jiwa. Itulah sebaik-baik penawar dalam
jiwa, bagi menghadapi dunia yang penuh gelora.
Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- dipujuk
dengan mengingatkan bahwasanya diri Baginda
senantiasa dalam ingatan Tuhan segala kejadian.
Inilah kekuatan abadi, yang menjadikan
Rasulullah saw terus tenang dan bahagia dalam
menghadapi hidup yang mengajar seribu satu arti.
Ingatlah ketika mereka berdua di dalam gua,
tatkala orang-orang kafir mulai mencari-cari
mereka, maka Abu Bakar r.a. mulai terasa takut
dan gundah-gulana. Ketika itulah Rasulullah -
shollallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan hakikat
kebahagiaan di dunia, yang akan membawa
seseorang bahagia sehingga ke syurga, yaitu
merasai kebersamaan Allah s.w.t. setiap masa:
“Jangan kamu sangka kita berdua, Allahlah yang
ketiga, bersama-sama kita yang kamu sangka
sekedar berdua”.
“...di waktu baginda berkata kepada
temannya: "Janganlah kamu bersedih, sesung
guhnya Allah bersama kita." Maka Allah
menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muham-
mad) dan membantunya dengan tentara yang
kamu tidak melihatnya...” (Qs. At-Taubah: 40)
Inilah kunci menikmati hidup. Semoga Allah
s.w.t. menganugerahkan rasa kebersamaan Al-
lah s.w.t. dalam hati kita. Amin.

0 komentar: